Pardoks Presiden Prabowo

Paradoks Presiden Prabowo dapat dipahami sebagai ironi strategis yang muncul dari pertemuan antara latar belakang militeristik dan tuntutan tata kelola demokratis–sipil modern, terutama dalam konteks manajemen negara, pendidikan, dan pembangunan manusia. Beberapa paradoks utamanya antara lain:


1. Paradoks Ketegasan vs Partisipasi Publik

Prabowo dikenal dengan gaya tegas, komando, dan berorientasi hasil.
Namun, negara demokrasi menuntut partisipasi publik, dialog, dan deliberasi.

Implikasi manajerial:

  • Efisiensi keputusan tinggi

  • Risiko rendahnya ruang kritik dan kontrol sosial
    Solusinya adalah manajemen hibrida: keputusan strategis cepat, pelaksanaan teknokratis, pengawasan partisipatif.


2. Paradoks Nasionalisme Kuat vs Global Interdependensi

Narasi kemandirian nasional (pangan, energi, pertahanan) sangat kuat.
Di sisi lain, ekonomi Indonesia terikat erat pada modal, teknologi, dan pasar global.

Dalam kebijakan publik:

  • Swasembada ≠ isolasi

  • Nasionalisme modern harus berbasis daya saing SDM, bukan sekadar proteksi

Di sinilah pendidikan vokasi, teknologi pangan, dan riset terapan menjadi kunci.


3. Paradoks Keberpihakan Rakyat Kecil vs Koalisi Elit

Prabowo mengusung citra pro-rakyat, petani, buruh.
Namun stabilitas politik dicapai melalui koalisi elite yang sangat besar.

Risiko manajemen pemerintahan:

  • Kebijakan populis berpotensi tersandera kompromi politik

  • Anggaran berisiko tidak fokus

Solusi rasional: penguatan sistem berbasis program dan indikator kinerja, bukan figur.


4. Paradoks Ketahanan Pangan vs Ketahanan SDM

Fokus kuat pada:

  • Pangan

  • Energi

  • Pertahanan fisik

Namun ketahanan jangka panjang justru ditentukan oleh:

  • Pendidikan dasar

  • Literasi sains

  • Etos kerja dan karakter

Tanpa revolusi manajemen pendidikan, swasembada hanya bersifat sementara.


5. Paradoks Negara Kuat vs Kemandirian Masyarakat

Negara diposisikan sangat dominan.
Padahal pembangunan berkelanjutan memerlukan:

  • Koperasi

  • BUMDes

  • Pesantren produktif

  • Sekolah sebagai pusat inovasi lokal

Negara kuat seharusnya memberdayakan, bukan menggantikan peran masyarakat.


Penutup (Refleksi Strategis)

Paradoks Presiden Prabowo bukan sekadar kontradiksi, tetapi titik ujian kepemimpinan:

Apakah ketegasan militer dapat bermetamorfosis menjadi kepemimpinan sipil yang beradab, ilmiah, dan partisipatif?

Jika paradoks ini dikelola dengan ilmu manajemen modern dan reformasi pendidikan, ia bisa menjadi kekuatan besar.
Jika tidak, ia berpotensi menjadi sumber stagnasi kebijakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas Pokok dan Fungsi Tata Usaha Sekolah

Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Camat

Berbagi Keberkahan Hidup : Keutamaan Menyantuni Anak Yatim Piatu di Bulan Ramadhan